Lompat ke isi utama

Berita

Bawaslu Donggala Perkuat Literasi Kepemiluan, Bahas Dilema Pemilu Asimetris di Indonesia

DELIK

Donggala - Bawaslu Kabupaten Donggala, –. Badan Pengawas Pemilihan Umum Kabupaten Donggala kembali menggelar DELIK (Demokrasi dan Literasi Kepemiluan) dengan mengangkat tema “Dilema Pemilu Asimetris di Republik Indonesia” melalui Zoom Meeting, Jumat (28/8/2026).

Ketua Bawaslu Donggala, Abdul Salim, menyampaikan apresiasi kepada narasumber, Jamaludin Lado Rua, SH, MH. yang telah meluangkan waktu untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman mengenai berbagai persoalan kepemiluan dalam forum tersebut.

“Terima kasih kepada narasumber yang telah meluangkan waktu dan kesempatan untuk berbagi pengetahuan serta pengalaman terkait kepemiluan dalam kegiatan DELIK,” ujar Abdul Salim.

Apresiasi serupa disampaikan Anggota Bawaslu Donggala, Rusli Guntur. Menurutnya, kehadiran narasumber memberikan perspektif baru dalam memahami dinamika pemilu asimetris, termasuk persoalan yang muncul dari karakteristik wilayah dan masyarakat yang berbeda.

“Ini merupakan penghormatan sekaligus ungkapan terima kasih kepada narasumber yang telah memberikan pencerahan dan memperkaya wawasan kita mengenai dilema pemilu asimetris di Republik Indonesia. Hal ini penting untuk dipahami bersama,” kata Rusli.

Dalam pemaparan, Jamaludin Lado Rua menjelaskan bahwa diskusi menelaah kekhususan penyelenggaraan pemilu di sejumlah wilayah, terutama Papua yang menerapkan sistem noken, serta karakteristik kepemiluan di Aceh, DKI Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sistem noken menjadi salah satu bahasan utama karena menunjukkan adanya mekanisme pemilihan yang dipengaruhi oleh kondisi sosial, budaya dan adat masyarakat setempat. Kekhususan tersebut sekaligus menghadirkan tantangan bagi penyelenggara dan pengawas pemilu dalam memastikan prinsip langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil (Luber Jurdil), perlindungan hak pilih serta kepastian hukum tetap terjaga.

Pembahasan turut mencakup sejumlah persoalan lain, mulai dari kerawanan data pemilih, keterbatasan regulasi, kondisi geografis yang beragam, hingga risiko keselamatan yang dapat dihadapi penyelenggara pemilu di wilayah dengan karakteristik khusus.

“Pemilu asimetris merupakan konsekuensi dari keberagaman Indonesia. Namun, kekhususan tersebut harus diikuti dengan regulasi yang jelas agar tidak menimbulkan kekosongan hukum dan tetap menjamin kualitas demokrasi,” Demikian Jamaludin.

Melalui DELIK, Bawaslu Donggala terus membuka ruang diskusi dan pertukaran pengetahuan mengenai berbagai persoalan kepemiluan. Forum DELIK merupakan ikhtiar dalam upaya perkuat literasi kepemiluan sekaligus melihat tantangan demokrasi Indonesia secara utuh di tengah keragaman karakter wilayah dan budaya masyarakat.

Penulis & Foto :  Moh. Fahrul

Editor : Chandra